Open post

Pohonku adalah Sedekahku

Sore itu cuaca mulai gelap, tapi semangat kami seterang sinar matahari pagi. Angin pun mulai menghembuskan dengan dinginnya sambil membawa butiran butiran air kecil, sementara tangan kami tak henti hentinya berusaha menggali dan menggali tanah. Bukan untuk mencari emas atau perak atau batu mulia lainnya, melainkan kami hendak melaksanakan sebuah kegiatan yang mulia.

Alhamdulillah ustad Dwi dan ustdz Rista mendampingi kami dengan sabar dalam kegiatan yang sudah kami tunggu tunggu sejak pagi menyisingkan sinarnya yang menyemai tekad kami untuk segera bersedakah.

Loh kok ....... sedekah?.

Dari yang telah dijelaskan oleh ustad sebelum kami bergulat dengan pasir yang bercampur tanah serta air, ternyata menanam pohon dan tanaman itu perintah nabi tercinta kita. Seperti yang diriwayatkan oleh Al-bukhari dan Muslim yang artinya

“Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan SEDEKAH karenanya”

Jadi kalau pohon kita yang tanami nantinya dimakan ulat, kita mendapat pahala sedekah. Atau kayunya diambil oleh orang untuk membuat daun pintu atau lainnya kita juga dapat pahala sedekah. Atau ada burung yang bersarang

 

di pohon kita, kita juga dapat pahala sedekah. Subhanallah banyak ya pahalanya, makanya pesan dari ustad sebelum menanam jangan lupa dimulai dengan baca Bismillaa hirraah maa nirrahiim.

Memang diantara kami tidak semuanya membawa perlengkapan seperti cetok, sekrop mini, cangkul mini, dll. Tapi kami semua saling bekerjasama, misal yang tidak membawa alat mereka membantu membawakan tanaman dan mengambilkan air serta membantu mengeluarkan tanah yang sudah di gemburkan oleh alat alat yang kami bawa.

Di tengah tengah kesibukan kami dalam menggali tanah, tiba tiba butiran butiaran air yang turun dari atas kami mulai membesar dan membasahi tanah serta tubuh kami yang akhirnya memaksa kami harus menghentikan kegiatan ini. Sedih ........., eeiit ternyata ada yang berani menerobos air hujan untuk mengambil payung karena tak rela bibit pohon tergeletak begitu saja. Sehingga teman teman yang lainpun memberanikan menerobos hujan demi menanam pohon untuk berlomba lomba dalam rangka mencintai serta melaksanakan sunnah rasullullah yaitu melestarikan alam.

Ya benar hari itu hari rabu tepatnya tanggal 24 januari 2018, sore hari kami sedang menanam pohon trembesi, akasia, dan cemara sewu sumbangan dari temannya ustad. Dengan kegiatan ini kami jadi tahu pentingnya melestarikan alam dengan memelihara tanaman dan pohon serta memanfaatkannya. Tauhkah kalian ternyata 1 pohon menghasilkan 1,2 kg oksigen sehari, sedangkan 1 manusia membutuhkan 0,5  kg oksigen sehari. Berarti 1 pohon menghidupi manusia 2 orang. Menebang 1 pohon sama dengan membunuh 2 orang.

Jadi ....... ayo semangat menanam ya teman.

Open post

Peduli Pacitan

Pagi itu suasana di sekolah ada yang agak berbeda. Kami harus keliling masuk dari kelas ke kelas, bahkan kantornya ustad dan ustadzah tidak luput dari kunjungan kami. Tidak puas sampai disitu, kami harus menyambut kakak kelas dan adik kelas di depan kelas kami sambil membawa kardus yang sudah kami tempeli secarik kertas yang memberi informasi tentang peristiwa bencana alam yang terjadi di kota Pacitan. Sambil sedikit merayu agar mau menyisihkan uang sakunya.

Memang rata-rata mereka tidak menyiapkan uang untuk infak atau sedekah karena tidak ada informasi sacara resmi dari sekolah untuk menyumbangkan sebagian uang sakunya untuk kegiatan sosial ini. Tetapi semangat teman teman yang sudah terlatih dengan infak dan sodaqoh meringankan hatinya untuk semangat bersedekah, bahkan ada yang rela tidak jajan pada hari itu karena uang sakunya di sumbangkan.

Sehari sebelumnya yaitu hari senin, kami sudah menempelkan informasi di kotak MADING sekolah tentang kepedulian bencana alam yang menimpa saudara kita di Pacitan. Menurut informasi yang kami peroleh baik dari media televisi dan media online bahwa saudara saudara kita sedang tertimpa

Pagi itu suasana di sekolah ada yang agak berbeda. Kami harus keliling masuk dari kelas ke kelas, bahkan kantornya ustad dan ustadzah tidak luput dari kunjungan kami. Tidak puas sampai disitu, kami harus menyambut kakak kelas dan adik kelas di depan kelas kami sambil membawa kardus yang sudah kami tempeli secarik kertas yang memberi informasi tentang peristiwa bencana alam yang terjadi di kota Pacitan. Sambil sedikit merayu agar mau menyisihkan uang sakunya.

Memang rata-rata mereka tidak menyiapkan uang untuk infak atau sedekah karena tidak ada informasi sacara resmi dari sekolah untuk menyumbangkan sebagian uang sakunya untuk kegiatan sosial ini. Tetapi semangat teman teman yang sudah terlatih dengan infak dan sodaqoh meringankan hatinya untuk semangat bersedekah, bahkan ada yang rela tidak jajan pada hari itu karena uang sakunya di sumbangkan.

Sehari sebelumnya yaitu hari senin, kami sudah menempelkan informasi di kotak MADING sekolah tentang kepedulian bencana alam yang menimpa saudara kita di Pacitan. Menurut informasi yang kami peroleh baik dari media televisi dan media online bahwa saudara saudara kita sedang tertimpa

Scroll to top